MATAHARI MUDA

From The East to The West, We Develop The Nation and Let The Nation Develop Us

Death of a Salesman, the Man had Died Twice before Suicide

Posted by Victorio Litaay on July 24, 2008

Willy Loman is a very complex character in Miller’s Death of Salesman, who consider loosing his pride was similiar to death.

The first scene has already been filled by complexity of Willy. Alone in the dark,he drove a car heading home, and when he got there he seemed to be tired and irritated easily.

Along the exposition stage to the climax the self-picture of him was a complicated one.

Sometimes he laughed and seemed to be happy, but for most of the time he was exasperated easily by his wife, sons, friends or neighbor. It seems like he lived in his own world.

He needed everybody but when they tried to enter his bubble he rejected them.

Willy found happiness and peaceful feeling when he talked to Ben. It was possible since Ben was an imaginative figure in Willy’s mind.

In the case of talking to Ben, Willy fantasized and developed his own world of peaceful and whenever he was in distress Ben showed up.

Willy’s Pride

As an old man who had passed 60 years old, the character of Willy had been developed through experience and life phases long before the play started.

However, he experienced series of conflicts and sometimes resulted as indications of certain changing.

Some may say that the change was a development. However, it is more because of his witnessing lost of his own-prides. For most of his lifetime, Willy considered himself as a successful and devoted salesman, and had a self confidence of being a good husband and father.

He kept on trying to defend his prides because he thought they are innate and had helped him to become a man he was. He rejected a reality of failure.

The facts showed that during the last part of his lifetime he lost the two of them.

The Fall of A Strong Man

The reality threatened Willy’s prides. It led him to lost all he had ever believed in and been proud of since he was young.

Howard faired him because he did not fit the requirements of modern sales. Although Howard felt sorry for him but Willy was just did not match.

Longtime devotion to the job, close interpersonal relationship with Howard and his father, hardworking minutes to years, thousands of miles of driving to sell the products were gone in a day.

Willy’s pride took him away from reality of being faired, to a defending position. He could not accept that he was just an ordinary person, who could become unemployed.

To protect himself, he kept the secret from his family and pretended that everything worked well.

The more he did it, the deeper he trapped in his fantasy. He even rejected Charley’s offering him a job, although he accepted Charley’s aid.

His objection to the decision which varies from soft to hard emotional pleas indicated his first lost.

Biff, who refused to pretend as Happy and his Mother did, chose to leave the family.

As a son of Willy, Biff suffered much because his father never let him to choose his own path. Willy kept on pushing him to become such a man Willy wanted him to be.

Besides, Biff’s respect for Willy had been broken when he found that his father committed adultery.

In the last acts, Willy realized his failure to be a role model to the son, and his wife. He tried to be honest and told the whole facts before Biff and Happy.

Being an honest person was not hard enough for him. However, the honesty brought him to realization that he was a failure to the family.

Biff’s moving away and their emotional separation were real. Willy saw what had happened as if he looked at the mirror, and found that he had no pride of being a father and husband anymore.

Reality was too Hard to Bear

The decision of Biff shocked Willy suddenly, and the father had to face reality. At this point, Willy weakened. He lost his hope and pride.

As usual, Willy ran to Ben, which means he tried to hide from reality, because in real life he had no pride left.

He was a failure and too bad he just realized it now. Since Ben was imaginative, it was Willy himself who used Ben as a way to prepare and encourage himself to commit suicide.

Having no pride means he had no other reason to live. The next days were going to be similar to being death.

Loosing the job ended his life as a salesman, and being separated from his son, who was his last hope of the brighter future, ended his struggle to be a family man. The failure was a dead-end.

In Arthur Miller’s hand, Willy Loman had died twice before committing suicide.

Posted in Literature - Sastra | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

Pilkada Indonesia Merepotkan Budayawati & Budayawan

Posted by Victorio Litaay on July 23, 2008

Kemarin (23 Juli) adalah saat warga Jawa Timur memilih gubernur dan wakil gubernur baru dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) yang diikuti oleh lima pasang calon, dan kegiatan ini sarat keunikan tersendiri yang belum berani dikatakan sebagai budaya.

Siangnya, televisi ramai memberitakan kegiatan pilkada tersebut dari berbagai sisi, baik dari kesibukan melakukan quick count, hasil sementaranya, maupun suasana Tempat Pemungutan Suara (TPS) di pagi hingga siang hari.

Saya yakin bahwa quick count sudah tidak lagi menjadi hal baru, yang ketika diadakan pertama kali dalam pemilihan umum beberapa tahun silam langsung menjadi sasaran protes tim sukses masing-masing calon yang merasa jagonya dirugikan.

Saat menonton televisi di sela kesibukan kantor di sore hari, saya berpikir Jika quick count sudah tidak unik lagi maka yang ditunggu sekarang adalah reaksi yang timbul setelah hasil penghitungan suara rampung, baik oleh quick count maupun pengumuman resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Mengingat masih beberapa hari lagi maka saya terus mencari keunikan lain sekedar mengusir kepenatan kerja.

Ada TPS yang didandani menyerupai suasana di kelenteng dekat tempat tinggal saya. Nah ini baru unik. Para petugas maupun dekorasi TPS kesemuanya mencerminkan pluralitas masyarakat setempat, dan televisi berhasil menangkap keunikan ini.

Di bagian lain, TPS di wilayah sekitar lumpur Lapindo kosong melompong tidak dikunjungi para pemilih. Makin unik. Sayapun melupakan pekerjaan saya, dan terus menonton.

Tentunya, ketidakhadiran mereka bukan merupakan hasil perjuangan kelompok golongan putih (golput) yang gencar mengkampanyekan cita-cita tidak menggunakan hak pilih karena satu dan lain hal.

Walaupun golput sudah ada jauh sebelum orde baru runtuh, namun jarang sekali satu TPS sepi pengunjung seperti yang ditayangkan ini.

Memang beberapa hari sebelumnya surat kabar sudah memuat keluhan masyarakat pengungsi lumpur Lapindo yang menganggap tidak ada satupun pasangan calon gubernur dan wagub di Jatim yang berani membuat pernyataan nyata tentang kasus ini.

Walau begitu saya tetap kaget karena tidak disangka-sangka sebelumnya jika akan terjadi kekosongan TPS dijauhi pemilihnya.

Jika sudah begini tentu saja pasangan calon peserta pilkada seharusnya malu, karena tidak mereka gagal menyentuh kepentingan rakyat hanya karena kepentingan politik. Demikian kira-kira pendapat yang muncul di hati saya.

Keunikan Pilkada Jatim lainnya adalah kenyataan bahwa semua calon menggandeng tokoh dari kalangan Nadhatul Ulama (NU).Yang unik bagi saya ialah NU menang tanpa bertanding. Benar-benar suatu pencapaian politis yang hebat untuk propinsi besar sebesar Jawa Timur.

Apakah ini berarti calon yang didukung oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang notabene anak kandung NU, akan menang? Kita tunggu bukti seberapa besar pengaruh NU di hari-hari mendatang setelah pengumuman hasil pilkada. Jika iya, maka sekali lagi yang menang tentunya bukan PKB tetapi NU sendiri.

Hingga selesai pemberitaan tidak ada satupun berita (setidaknya yang saya saksikan sepanjang sore) yang memberitakan bentrok akibat pilkada.

Hari Rabu (25 Juli) sebuah situs mengungkapkan adanya bentrok antara polisi dan masa yang tidak puas dengan hasil pilkada di Mojokerto.

Setelah sempat deg-degan karena saya merasa salah informasi waktu penyelenggaraan pilkada jatim ternyata itu hanya simulasi kesiapan aparat.

Karena saya harus mengakhiri tulisan ini maka baiklah saya sampaikan bahwa jika benar pengumuman hasil penghitungan suara pilkada Jatim tidak ada bentrokan maka pak polisi boleh lega hati hanya bersimulasi saja.

Pemilihan Kepala Daerah tahun 2008 di Jawa Timur akan benar-benar unik, mengingat di beberapa bagian lain di Indonesia, pilkada seakan menggeser tempat sepak bola maupun bidang lainnya sebagai kegiatan yang memamerkan keberangasan anak-anak bangsa kita, hanya karena tidak bisa menerima perbedaan sebagai keunikan yang harus disyukuri.

Jika bentrok maka yang repot adalah para budayawati dan budayawan untuk merumuskan kembali budaya berdemokrasi Indonesia, yang tren akhir-akhir ini memang sudah terlalu unik.

Posted in Culture-Budaya, Politics-Politik | Tagged: , , , | Leave a Comment »

Merusak Harga Adalah Wajar?

Posted by Victorio Litaay on July 23, 2008

Pagi ini, di kantor, teman saya menceritakan bagaimana beberapa pengusaha mebel di Jepara menjual produk setengah jadi.

Produk yang belum selesai itu diekspor ke luar negeri. Di sana akan disempurnakan sebelum dijual ke pasar lokal dan atau diekspor kembali, tentunya dengan harga selangit.

Tindakan tersebut menyebabkan harga mebel jadi dari Jepara jatuh, dan nampaknya makin banyak pengusaha yang melakukannya, karena permintaan meningkat.

Cerita teman saya tadi mengingatkan saya kisah menurunnya bisnis mebel Jepara yang bukan rahasia lagi. Apakah salah satu penyebabnya karena tindakan menjual produk setengah jadi tadi?

Seorang teman lain mendapat panggilan untuk diwawancarai di sebuah perusahaan besar di tanah air.Tahap wawancara dilalui dengan mulus, sementara tahap berikutnya juga dilewati dengan sangat mengesankan.

Nampaknya pihak perusahaan tersebut terkesan hasil tes maupun latar belakang teman tadi sehingga mereka mengambil langkah selanjutnya, negosiasi gaji, dan iapun diterima.

Tak disangka, setelah menandatangani kontrak dan mulai bekerja, ternyata rekan sejawat yang setingkat di perusahaan itu digaji lebih besar beberapa Rupiah dibanding dirinya.

Setelah mengobrol panjang lebar akhirnya terungkap bahwa teman saya termasuk satu dari dua karyawan baru selevel yang ditawari standar gaji tertinggi di bawah standar tertinggi yang ditawarkan pada salah seorang rekan mereka yang direkrut beberapa minggu sebelumnya.

Memang rekan tersebut langsung menerima karena gaji di tempat kerja sebelumnya tidak sebesar di tempat baru, tanpa sadar sang rekan telah memperkecil peluang negosiasi calon rekrutmen berikutnya.

Tentunya logis jika perusahaan berpendapat bahwa karena sudah ada yang berani terima tawaran lebih rendah maka tidak ada salahnya jika standar penawaran gaji diturunkan sedikit sambil beralasan bahwa itu adalah besaran tarif wajar yang berlaku di situ.

Cerita lain adalah melambungnya harga obat di tangan distributor, sebelum sampai di tangan konsumen.

Harga pasca produksi di pabrik obat bisa saja dinaikkan setinggi mungkin oleh distributor, karena sepanjang rantai distribusi di tanah air terjadi pengenaan diskon besar-besaran di tingkat sub distributor, apotik kelas atas maupun bawah, rumah sakit berbagai kelas, dan juga dokter.

Tak heran jika harga obat generik jauh lebih murah dari obat paten.Bahkan, yang muncul di benak saya ialah, apakah harga obat generik serendah itu sudah wajar? Atau mungkin masih tinggi?

Pengiriman produk setengah jadi, benar-benar merusak pasar produk jadi. karena daripada mengimpor produk jadi berbiaya besar lebih baik menyempurnakan produk setengah jadi di dalam negeri pengimpor dengan harga lebih murah.

Walaupun sekarang karyawan dipandang sebagai sumberdaya manusia namun besaran gaji tetap masuk di dalam komponen biaya, sehingga menekan biaya merupakan langkah benar dalam bisnis.Negosiasi gaji dianggap perang urat saraf semata, dan risiko lebih kecil biasanya ada di pihak calon pemberi kerja.

Ketatnya pemain pasar obat menyebabkan distributor harus pandai-pandai merayu calon konsumen dengan berbagai variasi diskon yang tidak akan merugikan distributor itu sendiri. Hal ini mengingat distributor adalah institusi bisnis, dan bukan lembaga sosial.

Masih di pagi yang sama, kami kemudian tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Namun tiba-tiba saya berhenti sejenak karena ada pertanyaan muncul di benak saya. Apakah upaya-upaya bisnis yang menguntungkan pengimpor, pemberi kerja, maupun distributor obat adalah langkah yang wajar?

Tentu saja ada yang jadi korban, yaitu produsen mebel, teman saya, dan konsumen obat. Tetapi bukankah dalam bisnis jika tidak untung maka rugi?

Bisnis hanya bisa terjadi jika ada penyedia dan konsumen yang membutuhkan. Dan di antara keduanya akan terjadi kegiatan tawar menawar.

Jadi tanggungjawab rusaknya standar nilai ekonomi barang maupun jasa tidak bisa hanya berada di pundak penyedia.

Tidak ada yang salah di situ, karena bisnis harus menguntungkan, dan masalah kewajaran sudah ada yang mengontrol yaitu pemerintah atau lembaga pengawas lainnya. Selama tidak dianggap melanggar maka roda terus berputar.

Jawaban yang manis untuk kita di tanah air, sayapun melanjutkan kegiatan saya, hari ini saya harus membuat beberapa keputusan bisnis di pagi hari.

Posted in Business - Bisnis | Tagged: , | Leave a Comment »

Mengapa Matahari Muda ?

Posted by Victorio Litaay on July 22, 2008

Untuk sebagian orang frase matahari muda memang biasa saja. Dan setiap orang bebas mengembangkan persepsinya sendiri-sendiri.

Namun baiklah mari kita lihat apa yang terjadi suatu pagi, tahun 1990, di sudut taman sebuah sekolah menengah atas, di ibukota salah satu propinsi sebelah Timur Indonesia.

Dua siswa kelas dua duduk di bawah papan pengumuman yang pintu kacanya terbuka lebar.

Mereka baru saja mendapat kepercayaan menjadi pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah di sekolah tersebut. Salah satu dari tanggungjawab mereka ialah papan pengumuman tadi.

Akhirnya disepakati bahwa sudah saatnya sekolah mereka memiliki sebuah majalah dinding.

Hal ini mengingat di jaman tersebut, majalah dinding sekolah-sekolah di pulau Jawa marak dibahas dalam tulisan-tulisan di majalah remaja.

Adapun di dalam angan mereka, majalah dinding baru ini pada akhirnya harus menjadi majalah sekolah konvensional yang dicetak dan diperbanyak.

Singkat kata, diskusi menghangat, dan tibalah mereka pada hal yang penting, yaitu soal nama.

Berdua mereka bersepakat, agar nama tersebut harus memiliki makna, dan dapat menjadi wakil media sekolah dari kawasan Timur Indonesia di tingkat nasional. Dengan demikian nama tersebut harus merupakan nama yang kuat mengemban tanggungjawab representasi tersebut.

Matahari mulai meninggi, jam menunjukkan pukul 10, oleh karena mereka berdua telah meminta ijin untuk mengurus masalah organisasi, maka proses pencarian namapun berlanjut.

“Apa yang bisa mewakili identitas kita?” Akhirnya pertanyaan ini tercetus. Setelah berpikir sejenak maka muncullah beberapa kata kunci yang bisa mewakili.

Anak SMA, remaja, usia muda, kreatif, dari Indonesia Timur, semangat muda, penuh ide, dan lain-lain muncul. Berangkat dari kata-kata kunci tersebut, tercetuslah ungkapan, “Matahari Pemuda.” dan “Matahari Generasi Muda.” Dan kemudian menjadi “Matahari Muda,” atas dasar pertimbangan idealisme, publikasi, dan pakem “enak gak enak didengar.”

Makna Matahari Muda

Baiklah makna Matahari Muda dibagikan di sini. Matahari adalah sebuah benda langit yang sangat diperlukan mahluk hidup maupun lingkungannya.

Manfaatnya dalam fotosintesa tumbuhan pada akhirnya menghasilkan oksigen yang dihirup manusia dan mahluk lainnya. Di samping itu matahari memberikan energi terbarukan, dimanfaatkan untuk mengeringkan beberapa hasil bumi yang pada akhirnya akan mendatangkan nilai ekonomis bagi manusia, dan masih banyak lagi manfaat lainnya.

Matahari muda juga adalah bola api raksasa, yang sinarnya terlihat ke mana-mana. Dalam gambaran anak-anak matahari sering digambar sebagai sebuah lingkaran dengan garis-garis lurus yang digambar dari lingkaran menuju ke arah luar.

Terbitnya matahari selalu dari Timur. Benda langit yang bermanfaat banyak bagi kehidupan mahluk hidup ini selalu ditunggu kedatangannya dari arah Timur.

Menjelang terbit, manusia dan mahluk hidup lainnya telah bersiap-siap melaksanakan aktifitas sehari-hari. Di bawah terang sinar matahari pada umumnya kegiatan yang berkaitan dengan kehidupan di atas dilaksanakan.

Adapun manfaat benda dari timur ini membanggakan mereka yang berdiam di wilayah Timur. Tak terhitung legenda, filosofi, dan lagu-lagu dihasilkan manusia oleh karena keberadaan Matahari menyapa dari sebelah Timur.

Muda, dan bukan semata pemuda atau generasi muda, mengesankan semangat yang masih baru, masih penuh ide dan inovasi, kreatif, dan lain-lain. Berapapun usia manusia atau mahluk hidup lainnya, usia muda adalah usia di mana puncak-puncak kekuatan fisik tercapai, dan jalan menuju puncak-puncak kemampuan intelektual maupun kedewasaan berpikir disusun.

Matahari Muda dalam angan kedua siswa tadi adalah sebuah media dari Kawasan Timur Indonesia, memberikan manfaat bagi umat manusia, mahluk hidup lainnya dan lingkungan sekitar, serta tidak terfokus hanya pada kelompok tertentu saja.

Matahari Muda harus menjadi media yang bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya. diterbitkan di Timur, namun bermanfaat bukan saja bagi mereka yang berada di kawasan ini namun bagi semua pihak di manapun berada. Oleh karena ‘Muda,’ media ini mengusung kreatifitas, mendorong inovasi, menjunjung tinggi orisinalitas karya pikir, penuh semangat, tak berhenti di dalam proses, dan banyak lagi.

Demikianlah Matahari Muda, kenangan masa silam yang membekas hingga saat ini, walaupun para penerusnya tidak memahami makna ini.

Mudah-mudahan Blog Matahari Muda inipun tetap membawa semangat yang sama dengan yang dicetuskan pada awalnya. Sekian

Posted in Why Matahari Muda | Leave a Comment »