Merusak Harga Adalah Wajar?
Posted by Victorio Litaay on July 23, 2008
Pagi ini, di kantor, teman saya menceritakan bagaimana beberapa pengusaha mebel di Jepara menjual produk setengah jadi.
Produk yang belum selesai itu diekspor ke luar negeri. Di sana akan disempurnakan sebelum dijual ke pasar lokal dan atau diekspor kembali, tentunya dengan harga selangit.
Tindakan tersebut menyebabkan harga mebel jadi dari Jepara jatuh, dan nampaknya makin banyak pengusaha yang melakukannya, karena permintaan meningkat.
Cerita teman saya tadi mengingatkan saya kisah menurunnya bisnis mebel Jepara yang bukan rahasia lagi. Apakah salah satu penyebabnya karena tindakan menjual produk setengah jadi tadi?
Seorang teman lain mendapat panggilan untuk diwawancarai di sebuah perusahaan besar di tanah air.Tahap wawancara dilalui dengan mulus, sementara tahap berikutnya juga dilewati dengan sangat mengesankan.
Nampaknya pihak perusahaan tersebut terkesan hasil tes maupun latar belakang teman tadi sehingga mereka mengambil langkah selanjutnya, negosiasi gaji, dan iapun diterima.
Tak disangka, setelah menandatangani kontrak dan mulai bekerja, ternyata rekan sejawat yang setingkat di perusahaan itu digaji lebih besar beberapa Rupiah dibanding dirinya.
Setelah mengobrol panjang lebar akhirnya terungkap bahwa teman saya termasuk satu dari dua karyawan baru selevel yang ditawari standar gaji tertinggi di bawah standar tertinggi yang ditawarkan pada salah seorang rekan mereka yang direkrut beberapa minggu sebelumnya.
Memang rekan tersebut langsung menerima karena gaji di tempat kerja sebelumnya tidak sebesar di tempat baru, tanpa sadar sang rekan telah memperkecil peluang negosiasi calon rekrutmen berikutnya.
Tentunya logis jika perusahaan berpendapat bahwa karena sudah ada yang berani terima tawaran lebih rendah maka tidak ada salahnya jika standar penawaran gaji diturunkan sedikit sambil beralasan bahwa itu adalah besaran tarif wajar yang berlaku di situ.
Cerita lain adalah melambungnya harga obat di tangan distributor, sebelum sampai di tangan konsumen.
Harga pasca produksi di pabrik obat bisa saja dinaikkan setinggi mungkin oleh distributor, karena sepanjang rantai distribusi di tanah air terjadi pengenaan diskon besar-besaran di tingkat sub distributor, apotik kelas atas maupun bawah, rumah sakit berbagai kelas, dan juga dokter.
Tak heran jika harga obat generik jauh lebih murah dari obat paten.Bahkan, yang muncul di benak saya ialah, apakah harga obat generik serendah itu sudah wajar? Atau mungkin masih tinggi?
Pengiriman produk setengah jadi, benar-benar merusak pasar produk jadi. karena daripada mengimpor produk jadi berbiaya besar lebih baik menyempurnakan produk setengah jadi di dalam negeri pengimpor dengan harga lebih murah.
Walaupun sekarang karyawan dipandang sebagai sumberdaya manusia namun besaran gaji tetap masuk di dalam komponen biaya, sehingga menekan biaya merupakan langkah benar dalam bisnis.Negosiasi gaji dianggap perang urat saraf semata, dan risiko lebih kecil biasanya ada di pihak calon pemberi kerja.
Ketatnya pemain pasar obat menyebabkan distributor harus pandai-pandai merayu calon konsumen dengan berbagai variasi diskon yang tidak akan merugikan distributor itu sendiri. Hal ini mengingat distributor adalah institusi bisnis, dan bukan lembaga sosial.
Masih di pagi yang sama, kami kemudian tenggelam dalam kesibukan masing-masing.
Namun tiba-tiba saya berhenti sejenak karena ada pertanyaan muncul di benak saya. Apakah upaya-upaya bisnis yang menguntungkan pengimpor, pemberi kerja, maupun distributor obat adalah langkah yang wajar?
Tentu saja ada yang jadi korban, yaitu produsen mebel, teman saya, dan konsumen obat. Tetapi bukankah dalam bisnis jika tidak untung maka rugi?
Bisnis hanya bisa terjadi jika ada penyedia dan konsumen yang membutuhkan. Dan di antara keduanya akan terjadi kegiatan tawar menawar.
Jadi tanggungjawab rusaknya standar nilai ekonomi barang maupun jasa tidak bisa hanya berada di pundak penyedia.
Tidak ada yang salah di situ, karena bisnis harus menguntungkan, dan masalah kewajaran sudah ada yang mengontrol yaitu pemerintah atau lembaga pengawas lainnya. Selama tidak dianggap melanggar maka roda terus berputar.
Jawaban yang manis untuk kita di tanah air, sayapun melanjutkan kegiatan saya, hari ini saya harus membuat beberapa keputusan bisnis di pagi hari.