Kemarin (23 Juli) adalah saat warga Jawa Timur memilih gubernur dan wakil gubernur baru dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) yang diikuti oleh lima pasang calon, dan kegiatan ini sarat keunikan tersendiri yang belum berani dikatakan sebagai budaya.
Siangnya, televisi ramai memberitakan kegiatan pilkada tersebut dari berbagai sisi, baik dari kesibukan melakukan quick count, hasil sementaranya, maupun suasana Tempat Pemungutan Suara (TPS) di pagi hingga siang hari.
Saya yakin bahwa quick count sudah tidak lagi menjadi hal baru, yang ketika diadakan pertama kali dalam pemilihan umum beberapa tahun silam langsung menjadi sasaran protes tim sukses masing-masing calon yang merasa jagonya dirugikan.
Saat menonton televisi di sela kesibukan kantor di sore hari, saya berpikir Jika quick count sudah tidak unik lagi maka yang ditunggu sekarang adalah reaksi yang timbul setelah hasil penghitungan suara rampung, baik oleh quick count maupun pengumuman resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Mengingat masih beberapa hari lagi maka saya terus mencari keunikan lain sekedar mengusir kepenatan kerja.
Ada TPS yang didandani menyerupai suasana di kelenteng dekat tempat tinggal saya. Nah ini baru unik. Para petugas maupun dekorasi TPS kesemuanya mencerminkan pluralitas masyarakat setempat, dan televisi berhasil menangkap keunikan ini.
Di bagian lain, TPS di wilayah sekitar lumpur Lapindo kosong melompong tidak dikunjungi para pemilih. Makin unik. Sayapun melupakan pekerjaan saya, dan terus menonton.
Tentunya, ketidakhadiran mereka bukan merupakan hasil perjuangan kelompok golongan putih (golput) yang gencar mengkampanyekan cita-cita tidak menggunakan hak pilih karena satu dan lain hal.
Walaupun golput sudah ada jauh sebelum orde baru runtuh, namun jarang sekali satu TPS sepi pengunjung seperti yang ditayangkan ini.
Memang beberapa hari sebelumnya surat kabar sudah memuat keluhan masyarakat pengungsi lumpur Lapindo yang menganggap tidak ada satupun pasangan calon gubernur dan wagub di Jatim yang berani membuat pernyataan nyata tentang kasus ini.
Walau begitu saya tetap kaget karena tidak disangka-sangka sebelumnya jika akan terjadi kekosongan TPS dijauhi pemilihnya.
Jika sudah begini tentu saja pasangan calon peserta pilkada seharusnya malu, karena tidak mereka gagal menyentuh kepentingan rakyat hanya karena kepentingan politik. Demikian kira-kira pendapat yang muncul di hati saya.
Keunikan Pilkada Jatim lainnya adalah kenyataan bahwa semua calon menggandeng tokoh dari kalangan Nadhatul Ulama (NU).Yang unik bagi saya ialah NU menang tanpa bertanding. Benar-benar suatu pencapaian politis yang hebat untuk propinsi besar sebesar Jawa Timur.
Apakah ini berarti calon yang didukung oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang notabene anak kandung NU, akan menang? Kita tunggu bukti seberapa besar pengaruh NU di hari-hari mendatang setelah pengumuman hasil pilkada. Jika iya, maka sekali lagi yang menang tentunya bukan PKB tetapi NU sendiri.
Hingga selesai pemberitaan tidak ada satupun berita (setidaknya yang saya saksikan sepanjang sore) yang memberitakan bentrok akibat pilkada.
Hari Rabu (25 Juli) sebuah situs mengungkapkan adanya bentrok antara polisi dan masa yang tidak puas dengan hasil pilkada di Mojokerto.
Setelah sempat deg-degan karena saya merasa salah informasi waktu penyelenggaraan pilkada jatim ternyata itu hanya simulasi kesiapan aparat.
Karena saya harus mengakhiri tulisan ini maka baiklah saya sampaikan bahwa jika benar pengumuman hasil penghitungan suara pilkada Jatim tidak ada bentrokan maka pak polisi boleh lega hati hanya bersimulasi saja.
Pemilihan Kepala Daerah tahun 2008 di Jawa Timur akan benar-benar unik, mengingat di beberapa bagian lain di Indonesia, pilkada seakan menggeser tempat sepak bola maupun bidang lainnya sebagai kegiatan yang memamerkan keberangasan anak-anak bangsa kita, hanya karena tidak bisa menerima perbedaan sebagai keunikan yang harus disyukuri.
Jika bentrok maka yang repot adalah para budayawati dan budayawan untuk merumuskan kembali budaya berdemokrasi Indonesia, yang tren akhir-akhir ini memang sudah terlalu unik.